

PERAWAN BANDUNG I

 

 

Nama saya Alvian Alrizal atau sering dipanggil dengan " Iyan". Saya indo-Belanda
sehingga postur tubuh saya lebih tinggi dibanding teman-teman seusia saya. Saya
berusia 18 tahun waktu kejadian ini terjadi.Cerita ini terjadi di Bandung pada
bulan
Juli 1997.Begini ceritanya:

Seperti biasa saya datang ke Bandung mengunjungi paman saya yang tinggal di
perumahan elite kota Bandung Selatan. Saya ke Bandung untuk mengikuti tes masuk
Akpol, kebetulan paman saya adalah seorang perwira Polri berpangkat kolonel
sehingga saya harus ke Bandung untuk meminta bantuannya.

Suatu hari saya bermaksud menelepon ke Jakarta dari kios phone yang terdapat di
depan komplek. Kios phone ini dijaga oleh Mas Dawi yang kebetulan berasal dari
Madura ( Satu daerah dengan ayah saya ) sehingga saya sudah akrab dengannya.
Nah, pada saat saya menunggu giliran menelepon, datang seorang cewek yang
memiliki wajah manis dengan tubuhnya yang sintal. Cewek ini mengenakan blue jean
dan kaos ketat sehingga tubuhnya tercetak jelas. Rupanya cewek ini warga sekitar
komplek karena dia sudah akrab dengan Mas Dawi. Katanya," Mas Dawi, lihat cowok
yang pakai mobil jimny enggak, soalnya Pipit janjian di sini tapi kok belum
nongol juga?". Oh, namanya Pipit, saya membatin. " Belum tuh Pit, dari tadi Mas
Dawi belum lihat cowok pakai mobil Jimny kesini". " Ya sudah, kalau gitu Pipit
pulang dulu ya Mas Dawi", katanya sambil melangkah pergi. Tiba-tiba timbul niat
iseng saya untuk menggodanya," Eh mbak, tunggu dulu, kita sama-sama pulangnya",
sambil saya berlari mengikuti langkahnya. Di!
a menoleh dan tersenyum." Mbak ngapain nyari yang enggak ada, kan ada saya",
kata saya jail, dia tersenyum lagi, aduh mak bibirnya itu merangsang sekali
bikin jantung deg- degan. " Kamu orang baru yah?", tanyanya, " enggak juga, saya
sedang berlibur di rumah paman", jawab saya sambil terus memperhatikan tubuhnya
yang seksi. " Memangnya rumah paman kamu di mana?", " di Mekar wangi" jawab
saya. "kalau gitu kenapa kamu ngikutin saya, kan Mekar Wangi belok kanan
barusan?", " Saya mau ke rumah mbak, biar tahu kalau kapan-kapan pingin main
kerumah", jawab saya nekat, diapun tersenyum . " Bolehkan saya main kerumah? ","
boleh saja, kebetulan enggak ada siapa-siapa", jawabnya. " Eh iya, nama saya
Alvian, panggil saja Iyan", kata saya, " saya Pipit, tetapi biasa dipanggil
Egi", jawabnya.

Enggak lama kami sampai kerumahnya yang terletak di samping komplek. Rumahnya
kecil tetapi sejuk, maklum udara Bandung memang dingin walaupun disiang hari.
Saya dan dia akhirnya terlibat obrolan seru di ruang tamu rumahnya. Ternyata
Pipit baru berusia 17 tahun, tetapi dia terlihat dewasa karena badannya memang
bongsor. Dia sudah putus sekolah karena orang tuanya bercerai dan kini dia
bekerja di sebuah perusahaan di Cibaduyut.

Sedang seru-serunya mengobrol, tiba-tiba saya bersin, mungkin karena pengaruh
perbedaan cuaca antara Jakarta dan Bandung membuat saya terserang pilek. "
Kenapa Yan, pilek ya?", tanyanya, " Iya nih, dari kemarin Iyan enggak enak
badan", " mau dipijit", tawarnya," boleh", jawab saya bersemangat. Pipit pindah
dan duduk di pinggiran kursi saya, dia mulai memijit pundak saya. Enggak usah
dibilang gimana degup jantung saya, apalagi sekali-kali payudaranya menyenggol
punggung saya. Sayapun akhirnya enggak kuat, saya tarik badannya dan mencium
bibirnya, pertama dia memberontak tetapi akhirnya menikmati pagutan bibir saya.
Ternyata doi sudah berpengalaman dalam hal berciuman. tekniknya enggak kalah
dengan cewek-cewek Jakarta. lidah kami saling membelit di rongga mulutnya.

Tangan saya mulai bergerilya di dadanya." aghhh...", dia mendesah ketika
putingnya saya permainkan. Akhirnya saya angkat bajunya dan saya naikkan BH-nya,
maka tersembullah dua bukit yang indah dan besar untuk cewek seumur dia. Sayapun
langsung mengulum pentil susunya yang berwarna coklat bergantian kanan-kiri.
Pipit sudah bergelinjang seperti cacing kepanasan sambil mulutnya
mendesis-desis. Ketika tangan saya bergerak ke arah selangkangannya, dia
menahannya. " Jangan Yan, kita baru kenal, lagi pula saya masih perawan",
katanya. Sayapun langsung BT karena nafsu saya sudah tidak tertahan.

Pipit rupanya menyadari keadaan saya, sambil tersenyum dia berjongkok di depan
saya yang masih duduk dikursi. " Kamu jangan marah ya, sebagai penggantinya saya
akan puaskan kamu", katanya sambil tangannya bergerak kearah resleting celana
saya. Dengan cekatan Pipit membuka celana dan CD saya sehingga burung saya yang
dari tadi sudah tegang mencelat keluar. Dengan perlahan dia mengocok burung
saya, wah jangan dibilang nikmatnya apalagi tangan saya dengan leluasa
mempermainkan susunya yang masih terbuka. Pipit mulai menjilati seluruh burung
saya, lidahnya dengan lincah mengusap seluruh permukaan kontol saya." Ssshhh
...ah", saya mengaduh karena merasakan nikmat yang luar biasa. Tidak lama
kemudian Pipit mulai mengulum burung saya sambil kepalanya maju mundur, sesekali
saya mendorong pantat saya ke atas supaya burung saya masuk semua ke mulutnya.
Gerakan kepalanya kian lama kian cepat, akhirnya saya tak tahan lagi. "
Aaakhh...Pit.. gue sudah enggak kuat", kata saya sambil menekan !
kepalanya kuat-kuat. Batang kontol saya terasa panas saat sesuatu mendesak-desak
hendak keluar, akhirnya "Crooott...." muntahlah sperma saya dimulutnya, Pipit
menjilati setiap tetes sperma yang saya muntahkan. Saya akhirnya terkulai
dikursi kecapekan, saya pamit pulang sebelum maghrib dengan janji bertemu lagi
esok hari dengannya.

 

Pengirim: indo (indomedia@myway.com)

 

Penilaian Pembaca: Bagus = 67%, Cukup = 0%, Jelek = 33%

 

     
